Kamis, 03 November 2016

Waasan Komunikasi Dalam Al-qur'an

BAB 1
PNDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia adalah Makhluk Sosial. Makhluk yang menyadari bahwa didalam kehidupan seringkali membutuhkan orang lain untuk mengatasi masalah kehidupan sehari-hari. Sehingga hal ini membuat manusia harus berkomunikasi. Semakin baik suatu komunikasi, maka kebutuhan atau permasalahan akan mudah mendapat bantuan orang lain.
Al-Qur’an yang diturunkan dibumi berbentuk huruf dan telah dicetak. Isi dari al-Qur’an tersebut sangat beragam. Keberagaman tersebut mencakup perkara dunia & akhirat. Rusdi Hamka beranggapan bahwa al-Qur’an mempunyai persamaan fungsi yakni sebagai fungsi informasi, fungsi kritik, fungsi edukasi, fungsi control social, fungsi penyalur aspirasi dan inspirasi masyarakat, al-Qur’an juga mampu membuat masyarakat merasakan keadaan baik desekitar maupun diluar lingkungannya.
Umat muslim mempunyai tugas uuntuk menyampaiakan Syiar Islam yang biasanya disebut dengan berdakwah. Hal yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu Dakwah salah satunya  yakni Komunikasi.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Model komuikasi yang ditawarkan al-Qur’an?
2.      Bagaimana Prinsip Komunikasi yang ada dalam al-Qur’an?
C.    Tujuan  
Pembuatan karya ini secara umum bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan dan Khasanah keilmuan keislaman. Secara Khusus karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui model komunikasi dan Prinsip komunikasi yang ditawarkan al-Qur’an.
  BAB 2
PEMBAHASAN
A.    Model Komunikasi
Model komunikasi sebagaimana diketahui dalam terminologi ilmu komunikasi, paling tidak ada 3 macam, yaitu :
1.      Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal  adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbalnya atau nonverbal. Komunikasi ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami dan istri, sahabat dekat, guru dan murid, dsb.[1]
Ayat-ayat yang menggunakan model komunikasi interpersonal dapat ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an antara lain:
a)      Proses komunikasi antara Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail tatkala beliau mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya melalui mimpinya. Bunyi ayat tersebut dalam surat as-Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)
Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
b)      Proses komunikasi antara Nabi Yusuf dan Nabi Ya’kub yang menceritakan perihal mimpinya melihat sembilan bintang dan kesemuanya bersujud kepadanya. Dalam surat Yusuf ayat 4-5 :
øإِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4) قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (5)
Artinya: (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
c)      Komunikasi antara Luqman dan anaknya tentang perintah mengesakan Allah. Dalam surat Luqman ayat 13 :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)
Artinya: dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
d)     Proses komunikasi antara lukman kepada anaknya, tatkala ia memerintahkan anaknya untuk mendirikan sholat dalam surat Luqman ayat 17 :
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17)
Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
2.      Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi Intrapersonal adalah proses informasi yang dikelola meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berfikir. Sensasi adalah proses menangkap stimuli. Persepsi adalah sumber makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Jadi, persepsi itu mengubah sensasi menjadi informasi. Memori adalah proses untuk menyimpan berbagai informasi dan memanggilnya kembali. Berfikir adalah bagaimana mengolah dan memanipulasi informasi untuk memenuhi kebutuhan atau meberi respon. Komunikasi intrapersonal mengurangi bagaimana orang itu menerima informasi, mengolahnya, menyimpan, dan menghasilkan kembali informasi tersebut.[2] Contoh komunikasi intrapersonal dalam al-Qur’an di sebutkan sebagai berikut :
a)      Q.S. al-Ghasiyah ayat 17-20 :
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Artinya : Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

b)      Q.S. al-Fajr ayat 15-16 :
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
Artinya: Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[1575].
[1575] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Ayat ini termasuk komunikasi intrapersonal dalam proses berpikir dengan menggunakan persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dalam ayat ini seseorang mengambil kesimpulan setelah memperhatikan stimulus yang datang sebelumnya yaitu, jika Allah memberi kenikmatan dan melapangkan rizki kepadanya, ia menyangka bahwa karunia itu merupakan kehormatan Allah kepadanya.
Kemudian timbul anggapan dalam hatinya bahwa Allah sama sekali tidak akan menghukumnya sekalipun ia berbuat sekehendak hatinya. Namun jika ia disempitkan rizkinya dan merasa rizkinya tidak kunjung datang, ia beranggapan bahwa hal ini merupakan penghinaan Allah kepadanya.
Menurut para mufassir persepsi manusia tadi adalah persepsi yang salah sebab pemberian nikmat terhadap seseorang di dunia pada hakikatnya tidak menunjukkan bahwa ia berhak sepenuhnya atas hal itu.[3]
3.      Model Komunikasi Massa dalam al-Qur’an
Komunikasi massa adalah komunikasi dengan menggunakan media massa seperti koran, televisi, radio, film, buku dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an banyak disebutkan di buku-buku massa bahkan Allah mengajarkan manusia dengan perantara Qallam yang tentunya hasilnya berupa buku.
al-Qu’an merupakan kitab Allah yang menjadi media penyampaian pesan-Nya kepada seluruh umat di dunia, dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak terdapat model-model komunikasi sebagaimana yang telah dicetuskan oleh ilmuan barat hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an sebenarnya telah membicarakan masalah ilmu komunikasi 14 Abad yang lalu jauh sebelum ilmuan barat memformulasikan tentang konsepsi dan model komunikasi Abad ke 19, ada hubunganya ditemukan antara konsep komunikasi ilmuan barat dengan al-Qur’an meski tidak menyebutkan secara spesifik tentang kajian ilmu komunikasi.

B.     Prinsip-Prinsip Komunikasi Dalam Al-Qur’an
Makna Komunikasi menurut KBBI pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Jika melihat definisi tersebut, maka seseorang yang sedang melakukan komunukasi setidaknya mempunyai etika. Beberapa ayat al-Qur’an yang membahas tentang prinsip keberhasilan dalam berkomunikasi. Beberapa ayat yakni: QS. An-Nisa’/4 ayat 8, 9, 63; QS. Al-Baqarah/2: 235, 263,; al-Ahzab 32, al-Isra’ ayat 28, 23.QS. Thaha: 43-44. Namun dalam pembahasan ini hanya akan membahas beberapa poin mengenai prinsip komunikasi.
1.      Qs. An-Nisaa’ :63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63)
Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.
Titik pembahasan pada ayat ini yaitu kalimah Qawlan Balighan yang artinya tepat sasaran, komunikatif, dan mudah dimengerti. Atau sampaikanlah segala dalam segala sesuatu dengan singkat, padat, dan jelas. Sehingga mudah dipahami dan membekas segala nasihat ke dalam jiwa. Kata Baliighan  terdiri dari huruf-huruf ba’, lam, dan ghain. Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia juga bermakna “cukup” karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Seorang yang pandai menyusun kata, sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup dinamai baligh. Mubaligh adalah seseorang yang menyampaikan suatu berita yang cukup kepada orang lain. Rasulullah SAW memberi pengraran saat berkomunikasi, sabdanya yakni dalam Shahih Bukhori bab Man Qassa bil Ilmi Qauman Duuna Qaumin, Karahiyyah al-Laa Yafsudun. No. 127.
وَقَالَ عَلِيٌّ: «حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ» حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ مَعْرُوفِ بْنِ خَرَّبُوذٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ بِذَلِكَ
Artinya: Dan Ali berkata, "Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?" Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Ma 'ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari 'Ali seperti itu."
Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah mengutip pendapat Para pakar sastra yang memberikan beberapa criteria pesan yang disampaikan sehingga pesan tersebut dapat disebut balighah, yaitu:
1.    Tertampungnya seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan.
2.    Kalimatnya tidak bertele-tele, tetapi tidak pula singkat, sehingga mengaburka pesan. Artinya, kalimat tersebut tidak berlebih atau berkurang.
3.    Kosa kata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak berat terdengar.
4.    Kesesuaian kandungan dan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara atau orang kedua tersebut-boleh jadi-sejak semula menolak pesan atau meragukannya atau-boleh jadi-telah meyakini sebelumnya, atau belum memilki ide sedikitpun tentang apa yang akan disampaikan.
5.    Kesesuaian dengan tata bahasa.
Qaulan Baliighan secara sederhana yakni berkomunikasi dengan melihat kadar intelektual atau keadaaan komunikan (lawan bicara). Gaya berbicara dan diksi kata dalam berkomunikasi dengan Anak-anak TK ataupun anak-anak harus dibedakan saat berkomunikasi yang lwan bicara yakni seoran Mahasiswa.  Kalau dengan anak-anak TK menggunkan bahasa sederhana dansering sesekali disisipi dengan Permainan. Sedangkan berkomunikasi dengan mahasiswa menggunakan Bahasa Akademis. Apabila mengisi rubrik atau bergelut dalam jurnalistik, maka Bahasa yang digunakan yakni Bahasa Komunikasi Massa.
Komunikasi ini dilakukan oleh Nabi-nabi terdahulu. Nabi itu diturunkan dibumi atau diwilayah tertentu dan sesuai dengan bahasa Kaumnya. Tujuan utama yakni, agar ajaran Islam dapat disampaikan dengan Mudah.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (4)
Artinya: 4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Ibrahim: 4)


2.      Qs. Al-Isra’ :23

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

7e$é&  !$yJçl°;  @à)s? xsù menjadi salah satu prinsip berkomunkasi. Prinsip tersebut yakni قولا كريما yang bermakna “berkata mulia”. Quraish Shihab menjelaskan tentang makna “Karim” yakni “yang mulia” atau terbaik sesuai objeknya. Apabila dikaitkan dengan “Rizqun karim” berarti rezeki yang halal dalam perolehan dan pemanfaata serta memuaskan dari segi kualitas dan kuantitasnya. Bila dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, berarti “pemaafan”.[4]  Kalimah ini  bermakna larangan durhaka kepada kedua orang tua, seperti mengucapkan kata “ah” terhadap keduannya. Kalimat ini kontroversi dengan kalimat terakhir pada ayat ini. yaitu kalimat ($VJƒÌŸ2wöqs%) yang artinya perkataan yang mulia, lembut, dan menyentuh. Sehingga kedua orag tua tidak tersinggung atau tersakiti hatinya. Karena orang tuan terhadap anaknya sangat sensitive. Apalagi orang yang sudah berumur tua sangat rentan terhadap penyakit jantung. Hati dan jiwanya lembut, sehingga sensitive terhadap segala sesuatu yang kasar. Jangan mengatakan “ah” kepada kedua orang tua. kata “ah” menyimbolkan atau mengindikasikan ingkar atau tidak syukur. Kata itu wujud kedurhakaan anak terhadap orang tua. Karena kata ini sering digunakan untuk respon perintah dari orang lain, tapi dia malas, enggan, dan banyak alasan agar terhindar dari perintah. Bahkan sering seorang anak menggunakan kata “ah” sambil melontarkan kata-kata negative dan bernada keras terhadap orang tua.   Qoulan Kariman” mengajarkan etika bahwa selain berbicara secara tepat sasaran. Perkataan bukan sekedar benar dan tepat, atau sesuai adat, tetapi juga harus termulia, kalaupun seandainya orang tua melakukan suatu “kesalahan” terhdap anak, kesalahan tersebut haru dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak pernah ada dan terhapus dengan sendirinya) sebab tidak orang tua yang bermaksud buruk terhdapa anaknya.
Hadits Riwayat Ibnu Zaid dan abdurrahman as-Sa’di mengutip sabda Rasulullah “tidak diragukan lagi bhawa orang yangmeninggikan suara kepada orang lain, adalah orang yang tidak berdap dan tidak menghormati orang lain”. Hadits ini secara implisit meyimpan persamaan dengan “Qoulan Kariman” maksudnya yakni berbicara dengan orang lain alangkah baiknya dengan menggunakan etika, misalnya merendahkan suara. Orang tua yang sudah mencapai lansia tidak senang dengan kata-kata lantang berlebihan. Suara tersebut akan melukai hati dan mengurangi nilai “Kariman”.
Komunikasi “Qaulan Kariman” menurut penulis berada diatas “Qaulan Balighan”. Hal ini disebab berbicara teapat sasaran, dan sesuai kadar pengetahuan tidaklah cukup. Perlu pendukung lain berupa”kaariman”. Wujudnya yakni merendahkan suara dll. Perintah ini juga disebut dalam Qur’an QS. Luqman ayat 19:
 وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)   
Artinya: Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)

 Kriteria “berkata yang mulia” menurut Sumarjo dalam jurnal “Inovasi” Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo yakni  Pertama, kata-kata bijaksana (fasih, tawaduk): yaitu kata-kata yang bermakna agung, teladan, dan filosofis. Dalam hal ini, Nabi saw sering menyampaikan nasihat kepada umatnya dengan kata-kata bijaksana. Kedua, kata-kata berkualitas: yaitu kata-kata yang bermakna dalam, bernilai tinggi, jujur, dan ilmiah. Kata-kata seperti ini sering diungkapkan oleh orang-orang cerdas, berpendidikan tinggi, dan filsuf. Ketiga, kata-kata bermanfaat:  yaitu kata-kata yang memiliki efek positif bagi perubahan sikap dan perilaku komunikan. Kata-kata seperti ini sering diucapkan oleh orang-orang terhormat seperti kiai, guru, dan orang tua.[5]
al-Qur’an menuntun manusia untuk berkomunikasi baik. Nilai yang terkandung perihal komunikasi yakni berkomunikasi dengan mengedepankan prinsip tepat sasaran dan diimbangi dengan perkataan yang mulia. Perbaikilah Komunikasi dengan Allah SWT, maka Komunikasi dengan sesama manusia akan berangsur-angsur lebih menjadi lebih baik.
BAB 3
PENUTUP
Pemaparan tentang komunikasi menurut pandangan al-Qur’an secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwasannya terdapat beberapa ragam dan prinsip. Ragam tersebut yakni komunikasi interpersonal, Komunikasi Intrapersonal, dan Model Komunikasi Massa. Sedangkan Beberapara prinsip yang dijelakan yakni Pertama,  Qaulan Balighan yang berarti berbicara sesuai dengan sasaran dan kapasitas ilmu komunikan (QS. an-Nisa’: 63). Kedua, Qoulan Kariiman atau berbicara mulia kepada komunikan misalnya berkomunikasi dengan kedua orang tua (QS. al-Isra’: 23).


Kelompok 5
1.      M. Alifuddin Khalwi
2.      M.Ali Syaifullah
3.      Rizal Fatkur Rochimin
4.      Rizky Faisal Mubarraq
5.      M. Sarifudin



[1] Dedy Mulyana, Komunikasi Interpersonal, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 17
[2] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), cet. ke-26, h. 49
[3] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Semarang: Thoha Putra, 1993), Juz. 30, h. 362
[4] M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: lentera Hati, 2002, vol.7), h. 65-66
[5] Sumarjo,  Ilmu Komunikasi Dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Inovasi, Volume 8, Nomor 1, Maret 2011, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo, h. 118

Tidak ada komentar:

Posting Komentar