BAB 1
PNDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia adalah Makhluk Sosial. Makhluk yang menyadari
bahwa didalam kehidupan seringkali membutuhkan orang lain untuk mengatasi
masalah kehidupan sehari-hari. Sehingga hal ini membuat manusia harus
berkomunikasi. Semakin baik suatu komunikasi, maka kebutuhan atau permasalahan
akan mudah mendapat bantuan orang lain.
Al-Qur’an yang diturunkan dibumi berbentuk huruf dan
telah dicetak. Isi dari al-Qur’an tersebut sangat beragam. Keberagaman tersebut
mencakup perkara dunia & akhirat. Rusdi Hamka beranggapan bahwa al-Qur’an
mempunyai persamaan fungsi yakni sebagai fungsi informasi, fungsi kritik,
fungsi edukasi, fungsi control social, fungsi penyalur aspirasi dan inspirasi
masyarakat, al-Qur’an juga mampu membuat masyarakat merasakan keadaan baik
desekitar maupun diluar lingkungannya.
Umat muslim mempunyai tugas uuntuk menyampaiakan Syiar
Islam yang biasanya disebut dengan berdakwah. Hal yang terpenting dalam
menentukan keberhasilan suatu Dakwah salah satunya yakni Komunikasi.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
permasalahan diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
Model komuikasi yang ditawarkan al-Qur’an?
2.
Bagaimana
Prinsip Komunikasi yang ada dalam al-Qur’an?
C.
Tujuan
Pembuatan karya ini secara umum bertujuan untuk menambah
wawasan pengetahuan dan Khasanah keilmuan keislaman. Secara Khusus karya ilmiah
ini bertujuan untuk mengetahui model komunikasi dan Prinsip komunikasi yang ditawarkan
al-Qur’an.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Model Komunikasi
Model komunikasi sebagaimana diketahui dalam terminologi
ilmu komunikasi, paling tidak ada 3 macam, yaitu :
1.
Komunikasi
Interpersonal
Komunikasi Interpersonal
adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang
memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara tatap muka,
yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara
langsung, baik verbalnya atau nonverbal. Komunikasi ini adalah komunikasi yang
hanya dua orang, seperti suami dan istri, sahabat dekat, guru dan murid, dsb.[1]
Ayat-ayat yang menggunakan model komunikasi interpersonal dapat
ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an antara lain:
a)
Proses
komunikasi antara Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail tatkala beliau
mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya melalui mimpinya. Bunyi
ayat tersebut dalam surat as-Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ
مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ
اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)
Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada
umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang
yang sabar".
b) Proses
komunikasi antara Nabi Yusuf dan Nabi Ya’kub yang menceritakan
perihal mimpinya melihat sembilan bintang dan kesemuanya bersujud kepadanya.
Dalam surat Yusuf ayat 4-5 :
øإِذْ قَالَ يُوسُفُ
لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4) قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ
رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ
لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (5)
Artinya: (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya:
"Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari
dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai
anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka
mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi manusia."
c) Komunikasi antara Luqman dan anaknya tentang
perintah mengesakan Allah. Dalam surat Luqman ayat 13 :
وَلَقَدْ
آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا
يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)
Artinya: dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar".
d) Proses
komunikasi antara lukman kepada anaknya, tatkala ia memerintahkan anaknya untuk
mendirikan sholat dalam surat Luqman ayat 17 :
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17)
Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
2.
Komunikasi
Intrapersonal
Komunikasi Intrapersonal adalah proses informasi yang dikelola
meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berfikir. Sensasi adalah proses
menangkap stimuli. Persepsi adalah sumber makna pada sensasi sehingga manusia
memperoleh pengetahuan baru. Jadi, persepsi itu mengubah sensasi menjadi
informasi. Memori adalah proses untuk menyimpan berbagai informasi dan
memanggilnya kembali. Berfikir adalah bagaimana mengolah dan memanipulasi
informasi untuk memenuhi kebutuhan atau meberi respon. Komunikasi intrapersonal
mengurangi bagaimana orang itu menerima informasi, mengolahnya, menyimpan, dan
menghasilkan kembali informasi tersebut.[2]
Contoh komunikasi intrapersonal dalam al-Qur’an di sebutkan sebagai berikut :
a)
Q.S.
al-Ghasiyah ayat 17-20 :
أَفَلَا
يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ
رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ
سُطِحَتْ (20)
Artinya : Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia
diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana
ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
b) Q.S.
al-Fajr ayat 15-16 :
فَأَمَّا
الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ
رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ
فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
Artinya:
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan
diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: "Tuhanku telah
memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya
Maka Dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[1575].
[1575]
Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan
itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang
tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah
ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Ayat ini termasuk komunikasi intrapersonal
dalam proses berpikir dengan menggunakan persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
dan menafsirkan pesan. Dalam ayat ini seseorang mengambil kesimpulan setelah
memperhatikan stimulus yang datang sebelumnya yaitu, jika Allah memberi
kenikmatan dan melapangkan rizki kepadanya, ia menyangka bahwa karunia itu
merupakan kehormatan Allah kepadanya.
Kemudian timbul anggapan dalam hatinya bahwa Allah sama
sekali tidak akan menghukumnya sekalipun ia berbuat sekehendak hatinya. Namun
jika ia disempitkan rizkinya dan merasa rizkinya tidak kunjung datang, ia beranggapan
bahwa hal ini merupakan penghinaan Allah kepadanya.
Menurut para mufassir persepsi manusia tadi adalah
persepsi yang salah sebab pemberian nikmat terhadap seseorang di dunia pada
hakikatnya tidak menunjukkan bahwa ia berhak
sepenuhnya atas hal itu.[3]
3.
Model Komunikasi Massa dalam al-Qur’an
Komunikasi massa adalah komunikasi dengan
menggunakan media massa seperti koran, televisi, radio, film, buku dan lain
sebagainya. Dalam al-Qur’an banyak disebutkan di buku-buku massa bahkan Allah
mengajarkan manusia dengan perantara Qallam yang tentunya hasilnya
berupa buku.
al-Qu’an merupakan kitab Allah yang menjadi
media penyampaian pesan-Nya kepada seluruh umat di dunia, dalam ayat-ayat
al-Qur’an banyak terdapat model-model komunikasi sebagaimana yang telah
dicetuskan oleh ilmuan barat hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an sebenarnya
telah membicarakan masalah ilmu komunikasi 14 Abad yang lalu jauh sebelum
ilmuan barat memformulasikan tentang konsepsi dan model komunikasi Abad ke 19,
ada hubunganya ditemukan antara konsep komunikasi ilmuan barat dengan al-Qur’an
meski tidak menyebutkan secara spesifik tentang kajian ilmu komunikasi.
B.
Prinsip-Prinsip Komunikasi Dalam Al-Qur’an
Makna
Komunikasi menurut KBBI pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua
orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Jika melihat
definisi tersebut, maka seseorang yang sedang melakukan komunukasi setidaknya
mempunyai etika. Beberapa ayat al-Qur’an yang membahas tentang prinsip
keberhasilan dalam berkomunikasi. Beberapa ayat yakni: QS. An-Nisa’/4 ayat 8, 9,
63; QS. Al-Baqarah/2: 235, 263,; al-Ahzab 32, al-Isra’ ayat 28, 23.QS. Thaha:
43-44. Namun dalam pembahasan ini hanya akan membahas beberapa poin mengenai
prinsip komunikasi.
1.
Qs.
An-Nisaa’ :63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي
قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ
قَوْلًا بَلِيغًا (63)
Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di
dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka
pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa
mereka.
Titik pembahasan pada ayat ini yaitu kalimah Qawlan
Balighan yang artinya tepat sasaran, komunikatif, dan mudah dimengerti.
Atau sampaikanlah segala dalam segala sesuatu dengan singkat, padat, dan jelas.
Sehingga mudah dipahami dan membekas segala nasihat ke dalam jiwa. Kata Baliighan
terdiri dari huruf-huruf ba’, lam,
dan ghain. Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari
huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia
juga bermakna “cukup” karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada
batas yang dibutuhkan. Seorang yang pandai menyusun kata, sehingga mampu
menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup dinamai baligh. Mubaligh
adalah seseorang yang menyampaikan suatu berita yang cukup kepada orang lain.
Rasulullah SAW memberi pengraran saat berkomunikasi, sabdanya yakni dalam
Shahih Bukhori bab Man Qassa bil Ilmi Qauman Duuna Qaumin, Karahiyyah al-Laa
Yafsudun. No. 127.
وَقَالَ عَلِيٌّ: «حَدِّثُوا
النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ»
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ مَعْرُوفِ بْنِ خَرَّبُوذٍ عَنْ
أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ بِذَلِكَ
Artinya: Dan Ali berkata, "Berbicaralah dengan
manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah
dan rasul-Nya didustakan?" Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin
Musa dari Ma 'ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari 'Ali seperti
itu."
Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah mengutip pendapat
Para pakar sastra yang memberikan beberapa criteria pesan yang disampaikan
sehingga pesan tersebut dapat disebut balighah, yaitu:
1.
Tertampungnya
seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan.
2.
Kalimatnya
tidak bertele-tele, tetapi tidak pula singkat, sehingga mengaburka pesan.
Artinya, kalimat tersebut tidak berlebih atau berkurang.
3.
Kosa
kata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran dan pengetahuan lawan
bicara, mudah diucapkan serta tidak berat terdengar.
4.
Kesesuaian
kandungan dan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara atau orang kedua
tersebut-boleh jadi-sejak semula menolak pesan atau meragukannya atau-boleh
jadi-telah meyakini sebelumnya, atau belum memilki ide sedikitpun tentang apa
yang akan disampaikan.
5.
Kesesuaian
dengan tata bahasa.
Qaulan Baliighan secara sederhana yakni berkomunikasi dengan melihat
kadar intelektual atau keadaaan komunikan (lawan bicara). Gaya berbicara dan
diksi kata dalam berkomunikasi dengan Anak-anak TK ataupun anak-anak harus
dibedakan saat berkomunikasi yang lwan bicara yakni seoran Mahasiswa. Kalau dengan anak-anak TK menggunkan bahasa
sederhana dansering sesekali disisipi dengan Permainan. Sedangkan berkomunikasi
dengan mahasiswa menggunakan Bahasa Akademis. Apabila mengisi rubrik atau
bergelut dalam jurnalistik, maka Bahasa yang digunakan yakni Bahasa Komunikasi
Massa.
Komunikasi ini dilakukan oleh Nabi-nabi terdahulu. Nabi
itu diturunkan dibumi atau diwilayah tertentu dan sesuai dengan bahasa Kaumnya.
Tujuan utama yakni, agar ajaran Islam dapat disampaikan dengan Mudah.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ
قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (4)
Artinya: 4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa
kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka
Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Ibrahim:
4)
2.
Qs.
Al-Isra’ :23
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا
أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا (23)
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
7e$é& !$yJçl°; @à)s? xsù menjadi salah satu prinsip berkomunkasi. Prinsip tersebut
yakni قولا كريما
yang bermakna “berkata mulia”. Quraish Shihab menjelaskan tentang makna “Karim” yakni “yang
mulia” atau terbaik sesuai objeknya. Apabila dikaitkan dengan “Rizqun karim”
berarti rezeki yang halal dalam perolehan dan pemanfaata serta memuaskan dari
segi kualitas dan kuantitasnya. Bila dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang
lain, berarti “pemaafan”.[4] Kalimah ini bermakna larangan durhaka kepada kedua orang
tua, seperti mengucapkan kata “ah” terhadap keduannya. Kalimat ini kontroversi
dengan kalimat terakhir pada ayat ini. yaitu kalimat ($VJÌ2wöqs%) yang artinya perkataan yang mulia, lembut, dan menyentuh.
Sehingga kedua orag tua tidak tersinggung atau tersakiti hatinya. Karena orang
tuan terhadap anaknya sangat sensitive. Apalagi orang yang sudah berumur tua
sangat rentan terhadap penyakit jantung. Hati dan jiwanya lembut, sehingga
sensitive terhadap segala sesuatu yang kasar. Jangan mengatakan “ah” kepada
kedua orang tua. kata “ah” menyimbolkan atau mengindikasikan ingkar atau tidak
syukur. Kata itu wujud kedurhakaan anak terhadap orang tua. Karena kata ini
sering digunakan untuk respon perintah dari orang lain, tapi dia malas, enggan,
dan banyak alasan agar terhindar dari perintah. Bahkan sering seorang anak
menggunakan kata “ah” sambil melontarkan kata-kata negative dan bernada keras
terhadap orang tua. “Qoulan Kariman” mengajarkan etika
bahwa selain berbicara secara tepat sasaran. Perkataan bukan sekedar benar dan
tepat, atau sesuai adat, tetapi juga harus termulia, kalaupun seandainya orang
tua melakukan suatu “kesalahan” terhdap anak, kesalahan tersebut haru dianggap
tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak pernah ada dan terhapus dengan
sendirinya) sebab tidak orang tua yang bermaksud buruk terhdapa anaknya.
Hadits Riwayat Ibnu Zaid dan abdurrahman as-Sa’di mengutip
sabda Rasulullah “tidak diragukan lagi bhawa orang yangmeninggikan suara kepada
orang lain, adalah orang yang tidak berdap dan tidak menghormati orang lain”.
Hadits ini secara implisit meyimpan persamaan dengan “Qoulan Kariman” maksudnya
yakni berbicara dengan orang lain alangkah baiknya dengan menggunakan etika,
misalnya merendahkan suara. Orang tua yang sudah mencapai lansia tidak senang
dengan kata-kata lantang berlebihan. Suara tersebut akan melukai hati dan
mengurangi nilai “Kariman”.
Komunikasi “Qaulan Kariman” menurut penulis berada diatas
“Qaulan Balighan”. Hal ini disebab berbicara teapat sasaran, dan sesuai kadar
pengetahuan tidaklah cukup. Perlu pendukung lain berupa”kaariman”. Wujudnya
yakni merendahkan suara dll. Perintah ini juga disebut dalam Qur’an QS. Luqman
ayat 19:
وَاقْصِدْ فِي
مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ
الْحَمِيرِ (19)
Artinya: Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)
Kriteria “berkata yang mulia” menurut Sumarjo dalam jurnal “Inovasi” Fakultas
Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo yakni
Pertama, kata-kata bijaksana (fasih, tawaduk): yaitu kata-kata yang
bermakna agung, teladan, dan filosofis. Dalam hal ini, Nabi saw sering
menyampaikan nasihat kepada umatnya dengan kata-kata bijaksana. Kedua,
kata-kata berkualitas: yaitu kata-kata yang bermakna dalam, bernilai tinggi,
jujur, dan ilmiah. Kata-kata seperti ini sering diungkapkan oleh orang-orang
cerdas, berpendidikan tinggi, dan filsuf. Ketiga, kata-kata bermanfaat: yaitu kata-kata yang memiliki efek positif
bagi perubahan sikap dan perilaku komunikan. Kata-kata seperti ini sering
diucapkan oleh orang-orang terhormat seperti kiai, guru, dan orang tua.[5]
al-Qur’an menuntun manusia untuk
berkomunikasi baik. Nilai yang terkandung perihal komunikasi yakni
berkomunikasi dengan mengedepankan prinsip tepat sasaran dan diimbangi dengan
perkataan yang mulia. Perbaikilah Komunikasi dengan Allah SWT, maka Komunikasi
dengan sesama manusia akan berangsur-angsur lebih menjadi lebih baik.
BAB 3
PENUTUP
Pemaparan tentang komunikasi menurut pandangan al-Qur’an
secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwasannya terdapat beberapa ragam
dan prinsip. Ragam tersebut yakni komunikasi interpersonal, Komunikasi Intrapersonal, dan Model Komunikasi Massa. Sedangkan Beberapara prinsip yang dijelakan yakni Pertama, Qaulan Balighan yang berarti berbicara
sesuai dengan sasaran dan kapasitas ilmu komunikan (QS. an-Nisa’: 63). Kedua,
Qoulan Kariiman atau berbicara mulia kepada komunikan misalnya
berkomunikasi dengan kedua orang tua (QS. al-Isra’: 23).
Kelompok 5
1.
M.
Alifuddin Khalwi
2.
M.Ali
Syaifullah
3.
Rizal
Fatkur Rochimin
4.
Rizky
Faisal Mubarraq
5.
M.
Sarifudin
[1] Dedy Mulyana, Komunikasi
Interpersonal, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 17
[2] Jalaluddin
Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008),
cet. ke-26, h. 49
[3] Ahmad Musthafa
al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Semarang: Thoha Putra, 1993), Juz. 30,
h. 362
[4] M.
Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
(Jakarta: lentera Hati, 2002, vol.7), h. 65-66
[5] Sumarjo, Ilmu Komunikasi Dalam
Perspektif Al-Qur’an, dalam Inovasi, Volume 8, Nomor 1, Maret 2011,
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo, h. 118
Tidak ada komentar:
Posting Komentar