Jumat, 04 November 2016

TAFSIR TAHLILI QS. AL-HAJJ AYAT 5



TUGAS MEMAHAMI AYAT
PRAKTIK PROFESI MAHASISWA
TAFSIR QS. AL-HAJJ AYAT 5


Disusun untuk memenuhi tugas harian PPM 2016 di Pusat Studi Qur’an
   
 Penyusun : Kelompok 11
1.
Masruroh
2.
Puput Wahyu Cahayani
3.
Ria Trimaya
4.
Siti Munawaroh
5.
Yuli Nur Kholistin






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
OKTOBER, 2016


PENDAHULUAN
Satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik siapa itu manusia merujuk kepada wahyu ilahi, agar kita dapat menemukan jawabannya. Oleh karena itu, kita harus memahami ayat-ayat yang berhubungan dengan manusia itu sendiri. Sebenarnya ada beberapa ayat yang banyak menyinggung tentang manusia dan awal penciptaannya, yang pada akhirnya akan menunjukkan kebesaran Allah dan bentuk nyata hari kebangkitan yang akan menyadarkan manusia bahwa kuasa Allah itu lebih tinggi dari kuasa mereka.oleh karena itu perlu dikaji secara mendalam, ayat yang dirasa relevan yang bisa dijadikan acuan untuk memahami dengan baik siapa manusia itu sebenarnya maka perlu dikaji dan dibahas salah satu ayat dalam surah al-Hajj ayat 5.
  
1.    Pembahasan Aspek Kebahasaan
a.      Kata

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِناَّ خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي اْلأَرْحَامِ مَانَشَآءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أُشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى اْلأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ {5}
Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah..
Dalam ayat ini, Allah mengajak semua manusia baik yang membantah dan menolak secara jelas keniscayaan Hari Kebangkitan maupun yang masih ragu, untuk merenungkan kuasa Allah dan bukti keniscayaan hari Kebangkitan. Dalam ayat ini di jelaskan bahwa kaum musyrikin menolak secara tegas kenabian nabi Muhammad SAW. mereka tidak membenarkan apa yang diajarkan oleh Nabi serperti adanya hari Kebangkitan. Mereka semua ragu bagaimana mungkin tulang belulang yang sudah bereserakan di dalam tanah mampu untuk di bangkitkan kembali. Mereka mengingkari bahwa semua itu tidak mungkin terjadi. Dan mereka tidak mempercayai kekuasaan Allah. Yang mereka anggap kekuasaan Allah itu sama dengan kekuasaan mereka pada diri sendiri.
Awal ayat pada surah ini berupa ajakan  يَاأَيُّهَا النَّاسُ yang berarti “hai manusia”. Ayat ini mengandung indikasi bahwa tergolong surah atau ayat “Makkyah”. Yang isi kandungannya mencakup Akidah atau Keimanan. Rasulullah SAW menyeru dan menjelaskan kepada kaum kafir Quraish untuk mengimani adanya hari kebangkitan dan penciptaan manusia yang pada saat itu mereka anggap merupakan suatu hal yang dianggap mustahil.
Surah al-Hajj  Ayat 5 menjelaskan tentang proses penciptaan, kematian, dan  kebangkitan setelah mati. Pertama, kata (خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ) artinya kami telah menciptakan kamu dari tanah, yang dalam artian menciptakan leluhur kamu yakni, Adam dari tanah. Ayat ini berbicara tentang reproduksi manusia, bukan seperti pendapat banyak ulama bahwa kata tanah dipahami sebagai berbicara tentang asal kejadian leluhur manusia, yakni Adam as.  Kedua, kata (نُّطْفَةٍ) dalam bahasa arab berarti setetes yang dapat membasahi. Penggunaan kata ini menyangkut tentang proses kejadian manusia yang sejalan dengan penemuan ilmiah yang menyebutkan bahwa pancaran air mani yang menyembur dari alat kelamin pria mengadung sekitar dua ratus juta benih manusia, dan yang dapat bertemu dengan indung telur hanya satu saj. Itulah yang dimaksud dengan nutfah. Ada juga yang memahami kata nutfah dalam arti hasil pertemuan antara sel sperma dengan sel telur di dalam ovum.[1]
Ketiga, kata (عَلَقَة) yang terambil dari kata a’laqa.  Dalam kamus – kamus bahasa, kata itu diartikan dengan a) segumpal darah yang membeku, b) sesuatu yang seperti cacing, berwarna hitam, terdapat dalam air, bila air itu diminum, cacing tersebut menyangkut di kerongkongannya, c) sesuatu yang bergantung atau berdempet. Dahulu kata tersebut dipahamai dalam arti segumpal darah, namun kemudian setelah maraknya penelitian dan berkembangnya ilmu pengethuan, para embriolog enggan mengartikannnya dalam arti tersebut. Mereka lebih cenderung memahaminya dalam arti sesuatu yang bergantung atau berdempet di dinding rahim. Keempat, kata (مُضْغَةٍ) yang terambildari kata Mudhghaha yang berarti mengunyah. Mudhghah adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah.
Kelima, kata (مُخَلَّقَةٍ) yang terambil dari kata khalaqa yang berarti mencipta atau menjadikan. Dengan demikian, penyifatan (مُضْغَةٍ) dengan kata (مُخَلَّقَةٍ) mengisyaratkan bahwa sekerat daging itu telah mengalami penciptaan yang berulang-ulang kali dalam berbagai bentuk sehingga akhirnya menjadi bentuk yang sempurna yaitu bentuk manusia (bayi) yang telah lengkap semua organnya dan tinggal menunggu masa kelahiran. Keenam, kata (طِفْلاً) yakni anak kecil / bayi. Kata ini berbentuk tunggal, walaupun redaksinya ayatnya ditujukan kepada jamak, karena ayat ini menggambarkan keadaan setiap yang lahir, kata tersebut dipahami dalam arti masing-masing kamu lahir dalam bentuk anak kecil / bayi.
Ketujuh, kata (أَرْذَلِ) yang terambil dari kata (رْذَل) yang berarti sesuatu yang hina atau nilainya rendah. Yang dimaksud disini adalah usia yang sangat tua yang menjadikan seseorang tidak memiliki lagi produktivitas karena daya fisik dan ingatannya telah sangat berkurang.
Kata (هَامِدَةً) hamidah dipahami dalam arti suatu kondisi antara hidup dan mati. Bila kata ini menyifati api, ia berarti paham-walau sia-sia bara apinya masih terlihat. Dan, bila ia menyifati tanah, ia berarti tidak memiliki tumbuhan karena gersang dan kering.
Kata (زَوْجٍ) zawj, yang menunhuk kepada aneka tumbuhan, dapat juga diartikan pasangan, dalam artin Allah SWT menciptakann pasangan-pasangan bagi tumbuh-tumbuhan, yang dengan pasangannya ia dapatt berkembang biak. [2]

b.      I’rab
I’rab adalah perubahan pada akhir kalimat karena adanya ‘amil yang memasukinya. Lafadz ó كُنتُمْ pada ayat ini menjadi mubtada’ yang mana ia adalah fi’il madhi naqis nasikh mabni sukun. Kemudian  فِي menjadi huruf jar, dan lafadz 5 رَيْبٍ menjadi khabar dari mubtada’ tersebut. Kemudian t لِنُبَيِّنَ merupakan fi’il mudhori’ yang mansub, dan huruf لَ dalam lafadz tersebut merupakan lam ta’lil yang berarti alasan. Lafadz طِفْلاً merupakan isim mufrod, namun memiliki bermakna jamak. Lafadz أَ(لِتَبْلُغُو  merupakan fi’il mudhori’ yang juga mansub. Lafadz تَرَى  merupakan fi’il mudhori’ yang juga mansub. Kemudian lafadz رَبَتْ  merupakan fi’il madhi mabni fathah, dan lafadz أَنبَتَتْ merupakan maf’ul mahduf.

c.       Balaghah
Didalam ayat ini mengandung Tasbih Baligh, pada potogan ayat:
.......وَتَرَى اْلأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ {5}
Fungsi tashbih Baligh pada bagian ini ada tiga, diantarnya:
1.      I’tilaafu at-Tibaq wa takafu    (ائتلاف الطباق و التكافو), “I’tilaf= persetujuan, at-Tibaq= kecocokan, at-Takafu= menyerupai. dalam potongan yang mengadung balaghoh mempunyai dua makna Haqiqi dan Majazi. Makna Hakiki berupa perintah Allah kepada manusia untuk melihat bumi yang kering. Ketika Allah mengguyur hujan maka tumbuhlah tunas-tunas yang hingga akhirnya menjadi tumbuhan. Tetapi ketika Allah tidak memberikan hujan pada tanah yang kering maka tumbuhan tidak akan tumbuh.
2.      الارداف (al-irdhifu) yang berarti persamaan. Lafad-lafad mempunyai persamaan dengan lafadz lain namun tidak menimbulkan pertentangan.
3.      التهذيب berarti didikan. Maksudnya yakni memberi gambaran tentang Allah membangkitkan manusia seperti Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.
Ayat diatas mengandung pembahasan yang bersifat umum. Beberpa lafad yang menunjukkan keumuman yakni. Pertama, Lafadz  يَاأَيُّهَا النَّاسُ “Wahai Manusia”  ini mengindikasikan surah ini tergolong Makkiyah dan secara kandungan makna, ayat ini ditujukan kepada masyarakat umum bukan terbatas pada orang-orang yang beriman. Kedua lafadz, W طِفْلاً berarti “bayi”. Lafad ini bersifat nakirah sehingga lafadz-lafdz  dan pesan yang yang terkandung bersifat umum.
2.    Pendekatan Kaidah-Kaidah Tafsir
Pada surat al-Hajj ini dimulai dengan mengajak manusia agar bertaqwa dan mempersiapkan diri menghadapi kedahsyatan kiamat. Ajaran kepada seluruh manusia ini mengesankan bahwa surat ini termasuk ke dalam surat Makkiyyah, karena salah satu ciri surat Makkiyyah adalah dimulai dengan ajakan ya ayyuhan nas (wahai manusia). Pada surat ini juga ditemukan adanya ajakan kepada kaum musyrikin untuk mempercayai prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, disertai pula ancaman siksaan yang pedih bagi mereka-mereka yang tidak mempercayainya.
Disamping itu, terdapat pula ayat-ayat yang memerintahkan shalat serta uraian tentang haji dan izin berperang, mengesankan bahwa ayat-ayat tersebut turun setelah Nabi Muhammad s.a.w berhijrah ke Madinah. Selain itu, juga banyak membicarakan persoalan syariat, yang banyak dibicarakan oleh ayat-ayat yang turun di Madinah. Hal inilah yang melatarbelakangi terjadinya perbedaan dalam menetapkan apakah surat ini termasuk surat Makiyah ataukah termasuk surat Madaniyah.

3.    Munasabah Ayat
Pada ayat kelima ini mempunyai keterkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu dimana ayat yang sebelumnya menjelaskan tentang adanya manusia yang tidak percaya dan membantah tentang kuasa Allah s.w.t tentang membangkitkan manusia setelah kematiannya. Maka pada ayat ini, Allah s.w.t mengajak manusia yang membantah, menolak atau meragukan kuasa Allah s.w.t tentang hari kebangkitan untuk merenungkan kuasa Allah s.w.t akan hal tersebut (hari kebangkitan). Hal ini dibuktikan dengan perpindahan tanah yang mati ke nutfhah (setetes mani) sampai akhirnya menjadi bayi yang segar bugar adalah bukti yang tidak dapat diragukan tentang terjadinya peralihan yang mati menjadi hidup.
Bayi yang lahir ke dunia, dengan berangsur-angsur akan menjadi dewasa, dan pada akhirnya akan kembali pada ketidakberdayaan, yaitu masa tua. Allah s.w.t sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menciptakan manusia (dari benda mati menjadi hidup), begitu pula Allah s.w.t tidak mengalami kesulitan untuk mengembalikan manusia meninggalkan dunia ini dan membangkitkannya pula di akhirat kelak. Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah s.w.t. Pada contoh lain, Allah s.w.t dengan mudahnya mampu menghidupkan tanah yang kering kerontang atau mati, hanya dengan menurunkan hujan diatasnya. Contoh ini lebih jelas, karena dapat dilihat secara langsung oleh indera manusia.
Pada ayat yang berikutnya, yaitu ayat keenam dan ketujuh menjelaskan bahwa hari kiamat memang benar-benar ada. Ayat ini juga menjelaskan bahwa segala penciptaan manusia dan tumbuhan, serta makhluk yang lain merupakan tanda kemahakuasaan Allah s.w.t. Allah Maha Adil, sehingga segala amal perbuatan seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah s.w.t di akhirat kelak. Semua manusia akan mendapatkan balasannya masing-masing sesuai dengan perbuatan tiap-tiap orang. Pada intinya, ayat ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh ini merupakan sesuatu yang saling berkaitan. Pada kesemua ayat ini, menjelaskan bahwa penciptaan manusia, tumbuhan, dan pengaturan keadaan mereka menyangkut kehidupan dan kematiannya berkaitan apa yang terjadi di alam raya, kesemuanya itu terjadi karena kekuasaan Allah s.w.t. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Allah berkuasa terhadap segala sesuatu.
Dalam musnad Ahmad no. 4438 terinci mengenai penciptaan manusia:
4438 - حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا أَبُو كُدَيْنَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ قَالَ (1) : فَقَالَتْ قُرَيْشٌ: يَا يَهُودِيُّ، إِنَّ هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ: لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ، قَالَ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ (2) ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ؟ قَالَ: " يَا يَهُودِيُّ، مِنْ كُلٍّ يُخْلَقُ: مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ، وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ، فَأَمَّا نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ، مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ، وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ، مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ "، فَقَامَ الْيَهُودِيُّ، فَقَالَ: هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ (3)[3]
 (AHMAD - 4438) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari 'Atha bin As Sa`ib dari Al Qasim bin Abdurrahman dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, "Seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang berbincang dengan para sahabatnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata, "Hai Yahudi, orang ini mengaku sebagai Nabi!" Yahudi itu pun berkata, "Sungguh, aku akan menanyakan sesuatu padanya, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi." Yahudi itu lalu menghampiri beliau dan duduk di dekatnya seraya bertanya, "Wahai Muhammad, dari apa manusia diciptakan?" Nabi lalu menjawab: "Wahai Yahudi, setiap manusia itu diciptakan dari nutfah (air mani) seorang lelaki dan nutfah seorang wanita. Nutfah laki-laki sifatnya lebih keras dan nantinya dia akan berubah menjadi tulang dan urat saraf. Adapun nutfah wanita sifatnya lebih halus dan nantinya dia akan membentuk daging dan darah." Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, "Beginilah yang dikatakan nabi-nabi sebelummu."

Riwayat lain yang turut mendukung dan memperkuat penciptaan  manusia yakni hadits 40 yang menjelaskan manusia telah dikumpulkan ke dlam perut ibunya dalam bentuk yang sudah berupa alaqah. Sebagaimana yang dijabarkan pada hadits berikut:
3332 - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ»[4]
(BUKHARI - 3332) : Telah bercerita kepada kami 'Umar bin Hafsh telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Al A'masy telah bercerita kepada kami Zaid bin Wahb telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dab dialah orang yang jujur dan berita yang dibawanya adalah benar: ""Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka".

4.    Asbabun Nuzul
-
5.    Kandungan Ayat
Surat al-Hajj : 5 menjelaskan bahwa proses kejadian manusia, yaitu manusia berasal dari nuthfah (setetes yang dapat membasahi), kemudian menjadi ‘alaqah dan pada akhirnya menjadi bayi. Kesemuanya itu sebagai bukti yang nyata adanya kebenaran akan kebesaran Allah s.w.t. Ayat ini juga menjelaskan akan kebenaran adanya hari kiamat, sehingga manusia dalam bertindak tidak akan sewenang-wenang, agar tidak terjerumus dalam maksiat. Semua yang dilakukan atau diperbuat oleh manusia dalam alam dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Manusia sebagai khalifah di bumi ini juga harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang diembannya. Semua pertanggungjawaban itu kelak akan tagih oleh Allah s.w.t di akhirat kelak. Maka, sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini akan datangnya hari kiamat.
Tidak ada yang mustahil bagi Allah s.w.t, termasuk menghidupkan kembali manusia sesudah kematian. Sebab Allah s.w.t yang menciptakan manusia dari sari pati tanah, kemudian diberi tulang-tulang, sehingga membentuk manusia. Lebih jelasnya, dalam surat ini diterangkan bahwasanya manusia diciptakan dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging yang sempurna, dan ditempatkan dalam rahim seorang perempuan. Selanjutnya, dikeluarkan menjadi seorang bayi. Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada kesukaran bagi Allah dalam menciptakan manusia dan tidak ada pula kesukaran bagi Allah s.w.t dalam membangkitkan kembali manusia setelah kematian.
6.    Penggalian Hukum (Istinbath)
-
7.    Hikmah atau Pelajaran
a.       Sebagai Muslim kita harus meyakini bahwa hari kiamat itu benar-benar ada, dan Allah s.w.t berkuasa dalam segala sesuatu.
b.      Meyakini bahwa tidak ada suatupun kesukaran bagi Allah s.w.t. Allah s.w.t mampu menciptakan manusia (menghidupkan sesuatu dari benda yang mati) dan mampu mematikan manusia (menjadikan sesuatu yang hidup menjadi mati), serta mampu pula mambangkitkan manusia setelah kematian (menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati).
c.       Setiap perbuatan di alam dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah s.w.t. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim kita harus berhati-hati terhadap perilaku yang kita lakukan.
d.      Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya, sebab manusia pada hakikatnya berasal dari nuthfah (setetes mani), yang merupakan sesuatu yang menjijikkan. Jadi, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya.

 PENUTUP
Allah menciptakan manusia dati tanah. Hal ini berarti, Allah langsung menciptakan manusia dari tanah, seperti menciptakan Adam a.s dan dapat pula berarti bahwa pada hakikatnya manusia itu diciptakan tanah sebab setetes mani yang merupakan asal kejadian manusia itu berasal dari makanan yang bersumber dari tanah.
Proses kejadian manusia dimulai dari pembuahan sperma terhadap ovum kemudian menjadi zygot, ‘alaqah, mudgah, janin kemudian Allah meniupkan roh kedalam janin yang telah berbentuk manusia. Setelah sampai waktunya lahir, kemudian semakin besar, dewasa dan tua. Semuanya itu hendaknya dapat dijadikan pelajaran tentang adanya hari kiamat dan hari kebangkitan.


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 10 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 155-156.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 10 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 157-158.
[3]Ahmad bin HAnbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, muhaqiq Abu Abdullah Ahmad, (Penerbuit: Mu’sasah al-Risalah 2001. No. 4438.
[4] Imam Bkhori, Shahih Bukhori, Muhaqqiq: Muhammad Zahir bin Nasir, Dar Thouq an-Najh, hadits, Bab, Kholaqol Adam wa wa shlawatullahi ‘alaihi wa dzarriyatihi, no. 3332

Tidak ada komentar:

Posting Komentar