Oleh Dr. Muchlis Hanafi pada acara Pembukaan PPM IAIN T.Agung di Bayt al-Quran
Al-Qur’an
merupakan wahyu Allah yang didalamnya memuat berbagai macam ilmu dan
hikmah, namun apa yang terdapat didalamnya sering kali memunculkan
perbedaan pemahaman dikalangan umat islam sendiri. Oleh karena itu
untuk membentuk dan menyelaraskan tujuan awal diturunkannya
al-Qur’an, diperlukan pendekatan-pendekatan yang tepat dalam
berinteraksi dengannya agar ia lebih membumi dan membawa kemaslahatan
bagi semua makhluk, baik didunia maupun diakhirat.
Seringkali
ditemukan kasus-kasus yang umum terjadi dalam berinteraksi dengan
al-Qur’an. Sebagian besar umat muslim hanya sebatas menjadikan
al-Qur’an sebagai objek bacaan (tilawatan), sebagai objek hafalan
(hifdzan) atau sebagai objek yang diperdengarkan (sima’an).
Pendekatan atau interaksi dengan al-Qur’an yang demikian ini
kiranya masih belum dapat menunjukkan kemampuan al-Qur’an untuk
menjawab realitas yang ada karena dalam hal ini, umat hanya
memberlakukan al-Qur’an hanya sebatas kulit luarnya saja.
Kasus lain
yang kerap terjadi adalah ditemukannya beberapa golongan atau
kelompok yang langsung mengamalkan apa yang ada dalam al-Qur’an
berdasarkan bunyi teksnya. Pengamalan terhadap bunyi teks ini, sering
kali justru menimbulkan problema karena apa yang disebutkan oleh teks
kerap kali tidak sesuai bila diberlakukan secara umum. Pengamalan
berdasarkan proses pembacaan tanpa pemahaman ini justru sangat
berbahaya bagi keberlangsungan sebuah agama karena hal ini berpotensi
penyelewengan terhadap spirit dan tujuan awal diturunkannya
al-Qur’an.
Selain
kedua kasus diatas, terdapat pula beberapa kelompok yang sangat
antusias dalam memahami al-Qur’an namun tanpa melakukan pembacaan
terlibih dahulu dan tanpa mengamalkannya. Kegiatan ini juga termasuk
kegiatan yang sia-sia karena potensi adanya kesalah pahaman akibat
human eror sangat besar. Jadi dengan adanya realitas-realitas dan
kasus seperti itu maka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an harus
mengkolaborasikan antar ketiganya.
Ketiga
Pendekatan tersebut harus dijalankan sesuai porsinya, antara teks dan
konteks harus diberlakukan secara seimbang dan diimplementasikan
dalam perbuatan. Hal ini sejalan dengan fungsi utama diutusnya
rasulullah saw yang membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah,
mengajarkan hikmah dan pemahaman atas ayat tersebut serta mensucikan
mereka dengan mengamalkan apa yang telah diajarkan..
Oleh : Faris Humam Assidiqi,Achmad Shoffan Baha'i, Ridwan, Nizar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar