Dr. Muchlis M. Hanafi, M.A
PPM PSQ Kel.2
Allah
S.W.T telah mengutus seorang Rasul untuk megajarkan ayat-ayat Allah kepada
masyarakat bagaimana seharusnya hidup didunia, bagaimana memahami tuhan dan
berdampingan dengan mahluk yang ada di semesta raya. Kita sebagai muslimin harus terus meggali
hikmah-hikmah yang ada di dalam ayat-ayat Allah, karena konteks zaman teruslah
berjalan dan memilki masalah-masalah baru yang harus dipecahkan oleh al-Qur’an
yang sholihul li kulli zaman wa makan.
Untuk memahami dan selanjutnya membumikan nilai-nilai
yang terkandung dalam ayat al-qur’an, seorang mufasir haruslah terus
berinteraksi dengan kitab suci ini, serta diperlukan adanya pendekatan yang
tepat dalam berinteraksi dengan al-qur’an. Sayangnya hari ini banyak kalangan
yang menjadikan al-qur’an terbatas hanya sebagai obyek bacaan (tilawatan),
obyek hafalan (hifdzan), atau ayat-ayat yang merdu di dengar ()istima’an. Sedikit orang yang focus untuk memahami, pun sedikit orang yang
sampai pada taraf mengaplikasikannya kepada
kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa.
KH. Yusuf Mayshar (Guru besar pondok Madrasatul Qur’an Tebuireng
Jombang) pernah mengatakan bahwa para penghafal alqu’an seharusnya juga
menjalankan dialektika lafdzan, ma’nan, wa amalan. hal ini sama dengan
semangat Pusat Studi Qur’an (PSQ) yang memiliki teori trilogy berinteraksi
dengan al-qu’an berdasarkan surah aljumu’ah ayat 2 yang diterapkan dalam
program-programnya.
Al-jum’ah
ayat 2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا
مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang
Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan
mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya
mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Teori Trilogi beriteraksi dengan al-qur’an adalah:
1.
Al-qur’an
harus sering di baca, didengar dan di hafalkan تلاوت وحفظاوسمعا
2.
Al-qur’an
harus di fahami (فهما) dan di tafsirkan (وتفسر) ويعلمهم
الكتابوالحكمة
3.
Al-qur’an
harus diamalkan dan diarahkan pada orang lain (dakwah (عملا ودعوة) ويزكيهم
Dalam rangka mengembangkan pemahaman dan penafsiran al-quran serta
meminimalisir kesalah fahaman penafsiran seorang mufasir atau calon mufasir
haruslah melakukan tiga hal yang harus di penuhi. Tiga hal itu adalah:
1.
Intregitas
sebagai seorang mufasir
2.
Mempersiapkan
perangkat keilmuan untuk lebih dalam memahami alqur’an
3.
Paktikum
:
·
Bisa
menyamikan materi tafsir dengan baikdan menarik dalam keadaan ruang waktu luas
maupun sempit.
·
Bisa
menyampaikan materi tafsir melalui tulisan.
·
Bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan melaui tafsir.
Teori trilogy sangat perlu di pahami dan diterapkan oleh seorang
mufasir maupun calon mufasir, karena hal ini akan membuat seorang mufasir
menjadi lebih adil sejak dalam fikiran ketika mengkaji dan menafsirkan
ayat-ayat Allah, ber imbang, moderat, tidak tekstualis dan juga tidak terlalu
liberal.
Oleh kelompok 2: Faqihuddin Amani ,M. Imam Sanusi Al-hanafi, Miftakhul
Arifin, Aris Thofira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar