TAFSIR QS. AL-HAJJ AYAT 5
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ
الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ
عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ
لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ
نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى
وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ
عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا
الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
ARTINYA:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan
(dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami
jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki
sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di
antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan
umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang
dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila
telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan
menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah..
A. KOSA KATA
Surah al-Hajj Ayat
5 menjelaskan tentang proses penciptaan, kematian, dan kebangkitan setelah mati. Pertama, Kata
(نطفة)
artinya setetes membasahi. Banyak versi yang menjelaskan makna Nudfah. Al-marghi memakani dengan air laki-laki atau
Mani. Dr.Nadiah Thayyarah. Berargumen, Istilah nuthfah juga disebut
untuk air laki-laki dan air perempuan. Nuthfah ini menngandung
spermatozoa pada lai-laki dan mengandung sel telur pada wanita. Rasulullah bersabda,
“wahai Yahudi, dari kedua air manusia diciptakan, dari nuthfah laki-laki
dan perempuan.”jadi air perempuan juga
bisa disebt dangan nuthfah, tetapi tidak disebut mani. Oleh sebab itu,
mani haya disebut untuk laki-laki, dan tidak untuk perempuan.[1]
Kedua, علقة berasal dari
kata علق
yang beberapa artinya yakni gumpalan darah yang membeku dan sesuatu yang
bergantung atau berdempet di dinding rahim.,
Ketiga مضغه segumpal
darah seukuran dapat dikunyah. Keempat , مخلّقة yag berarti penciptaan. Proses penciptaan
yang berkelanjutan mulai peleburan, mendaging, sehingga membentuk janin yang
sempurna dan menunggu masa kelahiran. Kelima طفل
yakni “anak kecil atau bayi”. Bentuk lafadz ini tungga. Walaupun redaksi ini
ditunjukkan kepada jamak. Karena ayat ini menggamrkan setiap anak kecil yang
beru lahir adalah ” Bayi”., Keenam أرذل
berasal dari kata رذل yang artinya sesuatu sesuatu yang hina atau rendah.
Lafad ini dalam ayat cenderung berakma usia yang sangat tua dan sudah tidak
memiliki produktifitas lagi. Ketujuh, هامدة bermakna suatu kondisi antara hidup dan
mati. Kedelapan, زوج dalam ayat ini bermakna
aneka tumbuhan, atau pasangan. Pasangan-pasangan bagi tumbuhan.[2]
B.
I’RAB, BALAGHOH,
DAN MAKKY WA MADANY
Pada umumnya setiap ayat dalam al-Qur’an mengandung I’rab.
I’rab berarti akhir kata karena 5amil yang memsukinya. ريّب في كنتم ان
Lafad ‘كننتم” merupakan Mubtada’ sedangkan
ريب
menjadi Khobar lafad "كنتم" .
disisi lain "كنتم" merupakan Fi’il Madhi
Naqis Naasikh Mabni Sukun. لتبين merupakan fi’il Mudhori’ mansub dan
huruf ل sebagai lam
ta’lil atau “alasan”. لتبلغو# sebagai fi’il Mudhori’ Mansub ’. وترى
berstatus mudhori’ marfu’. I’rab ô وربت yaitu fi’il Madhi Mabni Fathah. ونكر. Menjadi
Wau isti’nafiyah yaitu setiap huruf wau yang di awal perkataan. Nama lainnya
yakni wawu ibtida’. نكر merupakan fi’il mudhori’
marfu’.
Didalam ayat ini mengandung Tasbih Baligh, pada
potogan ayat:
...وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا
الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍÇÎÈ
Fungsi tashbih
Baligh pada bagian ini ada tiga, diantarnya:
1.
I’tilaafu at-Tibaq wa takaf (ائتلاف الطباق و التكافو),
“I’tilaf = persetujuan, at-Tibaq= kecocokan, at-Takafu = menyerupai. dalam
potongan yang mengadung balaghoh mempunyai dua makna Haqiqi dan Majazi. Makna Hakiki berupa perintah Allah kepada
manusia untuk melihat bumi yang kering. Ketika Allah mengguyur hujan maka
tumbuhlah tunas-tunas yang hingga akhirnya menjadi tumbuhan. Tetapi ketika
Allah tidak memberikan hujan pada tanah yang kering maka tumbuhan tidak akan
tumbuh.
2.
الارداف (al-irdhifu) yang
berarti persamaan. Lafad-lafad mempunyai persamaan dengan lafadz lain namun
tidak menimbulkan pertentangan.
3.
التهذيب berarti didikan. Maksudnya yakni memberi
gambaran tentang Allah membangkitkan manusia seperti Allah menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan.
Ayat diatas mengandung pembahasan
yang bersifat umum. Beberpa lafad yang menunjukkan keumuman yakni. Pertama, Lafadz
â¨$¨Z9$# $ygr'¯»t
“Wahai Manusia” ini
mengindikasikan surah ini tergolong Makkiyah dan secara kandungan makna, ayat
ini ditujukan kepada masyarakat umum bukan terbatas pada orang-orang yang beriman.
Kedua lafadz, WxøÿÏÛ berarti “bayi”. Lafad ini bersifat nakirah
sehingga lafadz-lafdz dan pesan yang
yang terkandung bersifat umum.
C. MUNASABAH DAN
KANDUNGAN AYAT
Ayat lima dapat dipahami dari dua sisi. Sisi Pertama yakni
awal penciptaan, akhir dunia, dan peristiwa sesudanya (Kronologi penciptaan
makhluk hidup, baik Tumbuhan, Hewan, ataupun manusia). salah satu yang diyakini
bahwa manusia akan mati. Dari mereka ada
yang meninggal pada usia muda dan ada pula yang masih diberi kesempatan hidup
hingga tua renta. Lalu, pada suatu masa yang tidak diketahui Ciptaan-Nya, Allah
Akan membangkitkan mereka kembali dengan alam yang berbeda.
Penjelasan diatas mempunyai keterkaitan atau munasabah
yang saling menjelaskan dan menguatkan satu sama lain. Pada ayat berikutnya Allah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِ
الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ
لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ (7)
Artinya
:
Yang
demikian itu, karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan Sesungguhnya
Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu, 7. Dan
Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan
bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.
Ayat 6 menegaskan tentang kemaha kuasaan Allah yang mampu menciptakan,
mematikan, dan membangkitkan kembali.
Hal itu sangatlah mudah bagi Allah untuk dilakukan. Ditegaskankembali
yakni “ Yang paling berhak untuk membangkitkan kembali adalah Allah SWT”.
Peristiwa yang diramalkan ayat 7 yakni peristiwa kiamat. Oleh karena itu manusia
dibangkitkan dan dimintai pertanggung
jawaban.
Anehnya, sudah kuat dalil-dalil yang menjelaskan hal-hal
tersebut ditolak oleh orang-orang musyrik. Sebagaimana pada QS. al-Hajj 8-10
berikut ini:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى
وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ (8) ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُ
فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ (9)
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
(10)
Artinya :
Dan di antara manusia ada orang-orang yang
membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab
(wahyu) yang bercahaya. 9. Dengan memalingkan lambungnyauntuk menyesatkan
manusia dari jalan Allah. ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami
merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. 10. (akan dikatakan kepadanya):
"Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua
tangan kamu dahulu dan Sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya
hamba-hamba-Nya".
Ada dalil rasional adanya hari
kebangkitan: pertama, mengembalikan sesuatu yang pernah ada lebih mudah
dari pada menciptakannya pertama kali, “dan dialah yang memulai penciptann
kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki
sifat yang maha tiggi di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkas.
Mahabijaksana (ar-Rum: 31). Kedua. Al-qur’an menjelaskan bahwa bagi
Allah, menciptakan sesuatu dan membangkitkan kembali adalah persoalan yang
sama. Tidak ada bedanya, “menciptakan sesuatu dan membangkitan kamu (bagi
Allah) hanyalah seperti (menciptakan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya
Allah Maha Mendengar, Maha Melihat (Luqman: 28). Ketiga: penciptaan
benda langit yang bermilyaran jauh lebih berat dari pada manusia (bukan
pandangan Allah). Jika Allah mampu menciptakan semua itu, maka menciptakan
manusia dan mengembalikannya dalam keadaan semula adalah tindakan yang sangat
ringan, “sungguh ciptaan langit dan bumi jauh lebih besar daripada
penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs.
Ghofir: 57).[3]
Dalam musnad Ahmad no. 4438
terinci mengenai penciptaan manusia:
4438 - حَدَّثَنَا حُسَيْنُ
بْنُ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا أَبُو كُدَيْنَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ
الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ:
مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ
يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ قَالَ (1) : فَقَالَتْ قُرَيْشٌ: يَا يَهُودِيُّ، إِنَّ
هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ: لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا
يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ، قَالَ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ (2) ثُمَّ قَالَ: يَا
مُحَمَّدُ، مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ؟ قَالَ: " يَا يَهُودِيُّ، مِنْ
كُلٍّ يُخْلَقُ: مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ، وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ، فَأَمَّا
نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ، مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ،
وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ، مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ
"، فَقَامَ الْيَهُودِيُّ، فَقَالَ: هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ (3)[4]
AHMAD – 4438 :
Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan
telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari 'Atha bin As Sa`ib dari Al
Qasim bin Abdurrahman dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, "Seorang
Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu
sedang berbincang dengan para sahabatnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata,
"Hai Yahudi, orang ini mengaku sebagai Nabi!" Yahudi itu pun berkata,
"Sungguh, aku akan menanyakan sesuatu padanya, yang tidak diketahui
kecuali oleh seorang Nabi." Yahudi itu lalu menghampiri beliau dan duduk
di dekatnya seraya bertanya, "Wahai Muhammad, dari apa manusia
diciptakan?" Nabi lalu menjawab: "Wahai Yahudi, setiap manusia itu
diciptakan dari nutfah (air mani) seorang lelaki dan nutfah seorang wanita. Nutfah
laki-laki sifatnya lebih keras dan nantinya dia akan berubah menjadi tulang dan
urat saraf. Adapun nutfah wanita sifatnya lebih halus dan nantinya dia akan
membentuk daging dan darah." Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata,
"Beginilah yang dikatakan nabi-nabi sebelummu."
Riwayat lain yang turut mendukung
dan memperkuat penciptaan manusia yakni
hadits 40 yang menjelaskan manusia telah dikumpulkan ke dlam perut ibunya dalam
bentuk yang sudah berupa alaqah. Sebagaimana yang dijabarkan pada hadits
berikut:
3332 - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ
حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ،
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ
أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ
يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا
بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ
أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ
بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا
ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ
فَيَدْخُلُ الجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ،
حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ
الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ»[5]
BUKHARI – 3332 :
Telah bercerita kepada kami 'Umar bin Hafsh telah
bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Al A'masy telah
bercerita kepada kami Zaid bin Wahb telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah
bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dab dialah orang
yang jujur dan berita yang dibawanya adalah benar: ""Setiap orang
dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut
ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula
kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah
mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan
kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya
lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal
dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan
neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan
taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk
surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga
hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu
dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan
amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka".
D. HIKMAH
Ayat di atas menjelaskan bahwa proses kejadian manusia
dan tumbuh-tumbuhan sebagai bukti yang nyata adanya kebenaran akan datangnya
hari kiamat, sehingga manusia dalam bertindak tidak akan sewenang-wenang, agar
tidak terjerumus dalam maksiat. Semua
yang dilakukan atau diperbuat oleh manusia dalam alam dunia ini akan dimintai
pertanggungjawaban di akhirat kelak. Manusia sebagai khalifah di bumi ini juga
harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang diembannya. Semua
pertanggungjawaban itu kelak akan tagih oleh Allah di akhirat kelak. Maka,
sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini akan datangnya hari kiamat.
Tidak
ada yang mustahil bagi Allah, termasuk menghidupkan kembali manusia sesudah
kematian. Sebab Allah yang menciptakan manusia dari sari pati tanah, kemudian
diberi tulang-tulang, sehingga membentuk manusia. Lebih jelasnya, dalam surat
ini diterangkan bahwasanya manusia diciptakan dari setetes mani, kemudian
menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging yang sempurna, dan ditempatkan
dalam rahim seorang perempuan. Selanjutnya, dikeluarkan menjadi seorang bayi.
Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada kesukaran bagi Allah dalam menciptakan
manusia dan tidak ada pula kesukaran bagi Allah dalam membangkitkan kembali
manusia setelah kematian.
Almaraghi memberikan pendapat ringkas bahwa jika kita
berfikir tentng penciptaan hewan dan tumbuh-tumbuhan, niscaya dengan itu kita
dapat membuktikan wujud al-Khaliq dan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan kembali
orang-orang yang telah mati, serta melakukan segala kemungkinan lainnya. Kita
juga dapat membuktikan bahwa kiamat itu pasti datang, dan Dia akan
membangkitkan orang-orang yang ada didalam kubur untuk dihisab dan diberi
balasan. Sekiranya tidak karena untuk pembuktian itu, niscaya Dia tidak akan
mengadakan alam ini, karena segala perbuatan Allah Ta’ala didasarkan adas
hikmah dan tujuan yang luhur.[6]
M. Quraish Shihab menjelaskan hikmah ringkas dalam
al-Lubab bahwasannya merenungkan tentang diri manusia sejak proses kelahirnnya
sampai masa tuanya, demikian juga tentang proses keadaan tumbuhan, dapat
mengantar kepada keyakinan tentang kuasa Allah membangkitkan manusia dari
kematian.[7]
Ringkasnya beberapa hikmah dari QS. al-hajj ayat 5 yakni:
1.
Sebagai Muslim kita harus meyakini bahwa hari kiamat itu
benar-benar ada.
2.
Meyakini bahwa tidak ada suatu kesukaran bagi Allah. Allah mampu
menciptakan manusia dan mampu pula mambangkitkan manusia setelah kematian.
3.
Setiap perbuatan di alam dunia ini kelak akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim kita
harus berhati-hati terhadap perilaku yang kita lakukan.
E. PENUTUP
Surah al-Hajj mengingatkan manusia untuk beriman kepada
Allah SWT. Ayat ini menjelaskan tentang penciptaan manusia dan kebangkitan
setelah mati. Ayat ini mengandung Tasbih
Baligh. Surah al-Hajj bermunasabah dengan ayat berikutnya yakni ayat 6-10.
Penemuan modern turut membantu membenarkan konsep dari penciptaan dan
kebangkitan manusia.lalu hikmah yang dapat diambil yakni manusia akan bertambah
ketaqwaannya dengan mengingat fenomena yang dirancang Allah SWT.
[1]Thayyarah,
Nadiah,Buku Pintar Sains dalam al-Qur’an mengerti Mu’jizat ilmiah Firman
Allah, terj. Arifin, M.Zaenal, (Jakarta: Zaman, 2013) hal.187.
[2] Shihab.
M. Quraish,Tafsir al-Mishbah Pesan, kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta:
Lentera Hati, 2002, vol. 8), h. 156-158. Lihat juga pada Bakr, Abu Bahru.
Terjemah tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Putra Toha, 1993 vol
17),h.148-149
[3] Kiamat
Dalam Perspektif al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
al-Qur’an, badan Litbang & Diklat Kementrian Agama RI dan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, 2011. h. 40-41.
[4]Ahmad bin HAnbal, Musnad Ahmad bin Hanbal,
muhaqiq Abu Abdullah Ahmad, (Penerbuit: Mu’sasah al-Risalah 2001.
No. 4438.
[5] Imam Bkhori, Shahih Bukhori, Muhaqqiq: Muhammad
Zahir bin Nasir, Dar Thouq an-Najh, hadits, Bab, Kholaqol Adam wa wa
shlawatullahi ‘alaihi wa dzarriyatihi, no. 3332
[6] Bakr, Abu
Bahru. Terjemah tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Putra Toha, 1993
vol 17),h 153.
[7] Shihab.
M. Quraish, al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pembelajaran dari Surah-Surah
al-Qur’an, (Tangerang: Lentera Hati, 2012, Vol. 2) ha. 489.
Kelompok 5
1.
M.
Alifuddin Khalwi
2.
M.Ali
Syaifullah
3.
Rizal
Fatkur Rochimin
4.
Rizky
Faisal Mubarraq
5.
M.
Sarifudin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar