Kamis, 03 November 2016

Tafsir QS al Hajj ayat 5




TAFSIR QS. AL-HAJJ AYAT 5
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
ARTINYA:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah..

A.    KOSA KATA
Surah al-Hajj  Ayat 5 menjelaskan tentang proses penciptaan, kematian, dan  kebangkitan setelah mati. Pertama, Kata (نطفة) artinya setetes membasahi. Banyak versi yang menjelaskan makna Nudfah.  Al-marghi memakani dengan air laki-laki atau Mani. Dr.Nadiah Thayyarah. Berargumen, Istilah nuthfah juga disebut untuk air laki-laki dan air perempuan. Nuthfah ini menngandung spermatozoa pada lai-laki dan mengandung sel telur pada wanita. Rasulullah bersabda, “wahai Yahudi, dari kedua air manusia diciptakan, dari nuthfah laki-laki dan perempuan.”jadi air perempuan  juga bisa disebt dangan nuthfah, tetapi tidak disebut mani. Oleh sebab itu, mani haya disebut untuk laki-laki, dan tidak untuk perempuan.[1]
Kedua,  علقة berasal dari kata علق yang beberapa artinya yakni gumpalan darah yang membeku dan sesuatu yang bergantung atau berdempet di dinding rahim.,  Ketiga  مضغه segumpal darah seukuran dapat dikunyah. Keempat , مخلّقة yag berarti penciptaan. Proses penciptaan yang berkelanjutan mulai peleburan, mendaging, sehingga membentuk janin yang sempurna dan menunggu masa kelahiran. Kelima  طفل yakni “anak kecil atau bayi”. Bentuk lafadz ini tungga. Walaupun redaksi ini ditunjukkan kepada jamak. Karena ayat ini menggamrkan setiap anak kecil yang beru lahir adalah ” Bayi”., Keenam   أرذل berasal dari kata رذل yang artinya sesuatu sesuatu yang hina atau rendah. Lafad ini dalam ayat cenderung berakma usia yang sangat tua dan sudah tidak memiliki produktifitas lagi. Ketujuh, هامدة bermakna suatu kondisi antara hidup dan mati. Kedelapan, زوج  dalam ayat ini bermakna aneka tumbuhan, atau pasangan. Pasangan-pasangan bagi tumbuhan.[2]

B.      I’RAB, BALAGHOH, DAN MAKKY WA MADANY
Pada umumnya setiap ayat dalam al-Qur’an mengandung I’rab.  I’rab berarti akhir kata karena 5amil yang memsukinya. ريّب  في  كنتم ان Lafad ‘كننتم” merupakan Mubtada’ sedangkan ريب menjadi Khobar lafad "كنتم" . disisi lain "كنتم" merupakan Fi’il Madhi Naqis Naasikh Mabni Sukun.  لتبين  merupakan fi’il Mudhori’ mansub dan huruf ل sebagai lam ta’lil atau “alasan”.  لتبلغو# sebagai fi’il Mudhori’ Mansub ’.  وترى berstatus mudhori’ marfu’. I’rab ô وربت yaitu fi’il Madhi Mabni Fathah. ونكر. Menjadi Wau isti’nafiyah yaitu setiap huruf wau yang di awal perkataan. Nama lainnya yakni wawu ibtida’. نكر merupakan  fi’il mudhori’ marfu’.

Didalam ayat ini mengandung Tasbih Baligh, pada potogan ayat:
...وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍÇÎÈ  

Fungsi tashbih Baligh pada bagian ini ada tiga, diantarnya:
1.      I’tilaafu at-Tibaq wa takaf (ائتلاف الطباق و التكافو), “I’tilaf = persetujuan, at-Tibaq= kecocokan, at-Takafu = menyerupai. dalam potongan yang mengadung balaghoh mempunyai dua makna Haqiqi dan Majazi. Makna Hakiki berupa perintah Allah kepada manusia untuk melihat bumi yang kering. Ketika Allah mengguyur hujan maka tumbuhlah tunas-tunas yang hingga akhirnya menjadi tumbuhan. Tetapi ketika Allah tidak memberikan hujan pada tanah yang kering maka tumbuhan tidak akan tumbuh.
2.      الارداف (al-irdhifu) yang berarti persamaan. Lafad-lafad mempunyai persamaan dengan lafadz lain namun tidak menimbulkan pertentangan.
3.      التهذيب berarti didikan. Maksudnya yakni memberi gambaran tentang Allah membangkitkan manusia seperti Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.
Ayat diatas mengandung pembahasan yang bersifat umum. Beberpa lafad yang menunjukkan keumuman yakni. Pertama, Lafadz  â¨$¨Z9$# $ygƒr'¯»tƒ  “Wahai Manusia”  ini mengindikasikan surah ini tergolong Makkiyah dan secara kandungan makna, ayat ini ditujukan kepada masyarakat umum bukan terbatas pada orang-orang yang beriman. Kedua lafadz, WxøÿÏÛ berarti “bayi”. Lafad ini bersifat nakirah sehingga lafadz-lafdz  dan pesan yang yang terkandung bersifat umum.

C.    MUNASABAH DAN KANDUNGAN AYAT

Ayat lima dapat dipahami dari dua sisi. Sisi Pertama yakni awal penciptaan, akhir dunia, dan peristiwa sesudanya (Kronologi penciptaan makhluk hidup, baik Tumbuhan, Hewan, ataupun manusia). salah satu yang diyakini bahwa manusia akan mati.  Dari mereka ada yang meninggal pada usia muda dan ada pula yang masih diberi kesempatan hidup hingga tua renta. Lalu, pada suatu masa yang tidak diketahui Ciptaan-Nya, Allah Akan membangkitkan mereka kembali dengan alam yang berbeda.
Penjelasan diatas mempunyai keterkaitan atau munasabah yang saling menjelaskan dan menguatkan satu sama lain. Pada ayat berikutnya Allah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِ الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ (7)
Artinya :
Yang demikian itu, karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan Sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, 7. Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.

Ayat 6 menegaskan tentang kemaha  kuasaan Allah yang mampu menciptakan, mematikan, dan membangkitkan kembali.  Hal itu sangatlah mudah bagi Allah untuk dilakukan. Ditegaskankembali yakni “ Yang paling berhak untuk membangkitkan kembali adalah Allah SWT”. Peristiwa yang diramalkan ayat 7 yakni peristiwa kiamat. Oleh karena itu manusia dibangkitkan dan dimintai pertanggung  jawaban.
Anehnya, sudah kuat dalil-dalil yang menjelaskan hal-hal tersebut ditolak oleh orang-orang musyrik. Sebagaimana pada QS. al-Hajj 8-10 berikut ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ (8) ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ (9) ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (10)
Artinya :
 Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. 9. Dengan memalingkan lambungnyauntuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. 10. (akan dikatakan kepadanya): "Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan Sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya".
Ada dalil rasional adanya hari kebangkitan: pertama, mengembalikan sesuatu yang pernah ada lebih mudah dari pada menciptakannya pertama kali, “dan dialah yang memulai penciptann kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang maha tiggi di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkas. Mahabijaksana (ar-Rum: 31). Kedua. Al-qur’an menjelaskan bahwa bagi Allah, menciptakan sesuatu dan membangkitkan kembali adalah persoalan yang sama. Tidak ada bedanya, “menciptakan sesuatu dan membangkitan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat (Luqman: 28). Ketiga: penciptaan benda langit yang bermilyaran jauh lebih berat dari pada manusia (bukan pandangan Allah). Jika Allah mampu menciptakan semua itu, maka menciptakan manusia dan mengembalikannya dalam keadaan semula adalah tindakan yang sangat ringan, “sungguh ciptaan langit dan bumi jauh lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs. Ghofir: 57).[3]
Dalam musnad Ahmad no. 4438 terinci mengenai penciptaan manusia:
4438 - حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا أَبُو كُدَيْنَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ قَالَ (1) : فَقَالَتْ قُرَيْشٌ: يَا يَهُودِيُّ، إِنَّ هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ: لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ، قَالَ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ (2) ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ؟ قَالَ: " يَا يَهُودِيُّ، مِنْ كُلٍّ يُخْلَقُ: مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ، وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ، فَأَمَّا نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ، مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ، وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ، مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ "، فَقَامَ الْيَهُودِيُّ، فَقَالَ: هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ (3)[4]

AHMAD – 4438 :
Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari 'Atha bin As Sa`ib dari Al Qasim bin Abdurrahman dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, "Seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang berbincang dengan para sahabatnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata, "Hai Yahudi, orang ini mengaku sebagai Nabi!" Yahudi itu pun berkata, "Sungguh, aku akan menanyakan sesuatu padanya, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi." Yahudi itu lalu menghampiri beliau dan duduk di dekatnya seraya bertanya, "Wahai Muhammad, dari apa manusia diciptakan?" Nabi lalu menjawab: "Wahai Yahudi, setiap manusia itu diciptakan dari nutfah (air mani) seorang lelaki dan nutfah seorang wanita. Nutfah laki-laki sifatnya lebih keras dan nantinya dia akan berubah menjadi tulang dan urat saraf. Adapun nutfah wanita sifatnya lebih halus dan nantinya dia akan membentuk daging dan darah." Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, "Beginilah yang dikatakan nabi-nabi sebelummu."

Riwayat lain yang turut mendukung dan memperkuat penciptaan  manusia yakni hadits 40 yang menjelaskan manusia telah dikumpulkan ke dlam perut ibunya dalam bentuk yang sudah berupa alaqah. Sebagaimana yang dijabarkan pada hadits berikut:
3332 - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ»[5]
BUKHARI – 3332 :

Telah bercerita kepada kami 'Umar bin Hafsh telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Al A'masy telah bercerita kepada kami Zaid bin Wahb telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dab dialah orang yang jujur dan berita yang dibawanya adalah benar: ""Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka".
D.    HIKMAH

Ayat di atas menjelaskan bahwa proses kejadian manusia dan tumbuh-tumbuhan sebagai bukti yang nyata adanya kebenaran akan datangnya hari kiamat, sehingga manusia dalam bertindak tidak akan sewenang-wenang, agar tidak terjerumus dalam maksiat. Semua yang dilakukan atau diperbuat oleh manusia dalam alam dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Manusia sebagai khalifah di bumi ini juga harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang diembannya. Semua pertanggungjawaban itu kelak akan tagih oleh Allah di akhirat kelak. Maka, sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini akan datangnya hari kiamat.
Tidak ada yang mustahil bagi Allah, termasuk menghidupkan kembali manusia sesudah kematian. Sebab Allah yang menciptakan manusia dari sari pati tanah, kemudian diberi tulang-tulang, sehingga membentuk manusia. Lebih jelasnya, dalam surat ini diterangkan bahwasanya manusia diciptakan dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging yang sempurna, dan ditempatkan dalam rahim seorang perempuan. Selanjutnya, dikeluarkan menjadi seorang bayi. Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada kesukaran bagi Allah dalam menciptakan manusia dan tidak ada pula kesukaran bagi Allah dalam membangkitkan kembali manusia setelah kematian.
Almaraghi memberikan pendapat ringkas bahwa jika kita berfikir tentng penciptaan hewan dan tumbuh-tumbuhan, niscaya dengan itu kita dapat membuktikan wujud al-Khaliq dan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, serta melakukan segala kemungkinan lainnya. Kita juga dapat membuktikan bahwa kiamat itu pasti datang, dan Dia akan membangkitkan orang-orang yang ada didalam kubur untuk dihisab dan diberi balasan. Sekiranya tidak karena untuk pembuktian itu, niscaya Dia tidak akan mengadakan alam ini, karena segala perbuatan Allah Ta’ala didasarkan adas hikmah dan tujuan yang luhur.[6]
M. Quraish Shihab menjelaskan hikmah ringkas dalam al-Lubab bahwasannya merenungkan tentang diri manusia sejak proses kelahirnnya sampai masa tuanya, demikian juga tentang proses keadaan tumbuhan, dapat mengantar kepada keyakinan tentang kuasa Allah membangkitkan manusia dari kematian.[7]
Ringkasnya beberapa hikmah dari QS. al-hajj ayat 5 yakni:
1.      Sebagai Muslim kita harus meyakini bahwa hari kiamat itu benar-benar ada.
2.      Meyakini bahwa tidak ada suatu kesukaran bagi Allah. Allah mampu menciptakan manusia dan mampu pula mambangkitkan manusia setelah kematian.
3.      Setiap perbuatan di alam dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim kita harus berhati-hati terhadap perilaku yang kita lakukan.
E.     PENUTUP
Surah al-Hajj mengingatkan manusia untuk beriman kepada Allah SWT. Ayat ini menjelaskan tentang penciptaan manusia dan kebangkitan setelah mati. Ayat  ini mengandung Tasbih Baligh. Surah al-Hajj bermunasabah dengan ayat berikutnya yakni ayat 6-10. Penemuan modern turut membantu membenarkan konsep dari penciptaan dan kebangkitan manusia.lalu hikmah yang dapat diambil yakni manusia akan bertambah ketaqwaannya dengan mengingat fenomena yang dirancang Allah SWT.





















[1]Thayyarah, Nadiah,Buku Pintar Sains dalam al-Qur’an mengerti Mu’jizat ilmiah Firman Allah, terj. Arifin, M.Zaenal, (Jakarta: Zaman, 2013) hal.187.
[2] Shihab. M. Quraish,Tafsir al-Mishbah Pesan, kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol. 8), h. 156-158. Lihat juga pada Bakr, Abu Bahru. Terjemah tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Putra Toha, 1993 vol 17),h.148-149
[3] Kiamat Dalam Perspektif al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, badan Litbang & Diklat Kementrian Agama RI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2011. h. 40-41.
[4]Ahmad bin HAnbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, muhaqiq Abu Abdullah Ahmad, (Penerbuit: Mu’sasah al-Risalah 2001. No. 4438.
[5] Imam Bkhori, Shahih Bukhori, Muhaqqiq: Muhammad Zahir bin Nasir, Dar Thouq an-Najh, hadits, Bab, Kholaqol Adam wa wa shlawatullahi ‘alaihi wa dzarriyatihi, no. 3332
[6] Bakr, Abu Bahru. Terjemah tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Putra Toha, 1993 vol 17),h 153.
[7] Shihab. M. Quraish, al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pembelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an, (Tangerang: Lentera Hati, 2012, Vol. 2) ha. 489.



Kelompok 5
1.      M. Alifuddin Khalwi
2.      M.Ali Syaifullah
3.      Rizal Fatkur Rochimin
4.      Rizky Faisal Mubarraq
5.      M. Sarifudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar