Jumat, 04 November 2016

RESUME TAFSIR MAUDHU'I



KELOMPOK 9:
1.      Evi Latifatun Nisa’
2.      Leny Anjani
3.      Lina Faizatul Hasanah
4.      Lina Sofyana Safitri
5.      Lutfiyatul Maslikhah

TAFSIR MAUDHU’I
Disampaikan Oleh: Muhammad Quraish Shihab

Tafsir Maudhu’i adalah nama lain dari tafsir tematik, yakni tafsir yang menjelaskan makna yang terkandung daam al-Quran berdasarkan tema-tema tertentu yang sebelum menuliskan tafsir tersebut maka harus terkumpul terlebih dahulu ayat-ayat yang setema dengan ayat yang akan dibahas. Embrio lahirnya tafsir tematik ini sudah ada sejak zaman Rasulullah yang mana tak jarang beliau menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an yag kemudian berlanjut hingga masa setelah nabi wafat. Namun, secara kontemporer lahirnya tafsir maudhu’i adalah pada tahun 1975 an yang jika di Mesir (al-Azhar) dinisbatkan kepada Syeh Ahmad al-Qubi dan di Iran (diluar al-Azhar) dinisbatkan kepada Baqr Shadq. Kedua tokoh tersebut diyakini sebagai peletak metode maudhui di al-Azhar.
Pada awalnya tafsir maudhu’i dianggap akan mengubah susunan al-Qur’an.salah satu mufasssir yang menuliskan tafsir maudhu’i ialah M.Quraosh Shihab yang terkenal dengan kitab tafsirnya yakni tafsir al-Misbah.Dalam menuliskan tafsir maudhu’i sama halnya dengan menuliskan tafsir tahlili yang memiliki jalan atau langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum menuliskan tafsir maudhu’i.
Adapun langkah-langkah yang harus di tempuh dalam menyusun tafsir maudhu’i :
1.      Jika ingin menafsirkan secara maudhu’i harus menghimun ayat-ayat yang setema
2.      Menjelaskan kata yang diteliti
3.      Jika ada cukup bnyak ayat yang membahas maka tafsir maudhu’i bisa ditulis
4.      Pelajari semua tentang ayat-ayat tersebut dari munasabah ayat, asbabun Nuzul, hadits dan lain-lain
5.      Jika telah terkumpul semua data tanpa munasabah dan asbabun Nuzul maka yang paling penting dalam tafsir maudhu’i adalah arti tiap kata yang digunakan waktu al-Qur’an turun, memahai kata dasar yang memiliki banyak makna tapi pada hakekatnya memiliki makna sama.
6.      Jika ayat tersebt berupa kisah maka dalam menafsirkan ayatnya harus berurutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar